The Future of CSR :Building Meaningful Impact Trough Community Development

The Future of CSR :Building Meaningful Impact Trough Community Development

29 Juli 2026 – Sustainability Learn Hub : Webinar Series

Corporate Social Responsibility (CSR) tidak lagi berada pada titik yang sama seperti satu atau dua dekade lalu. Jika sebelumnya CSR identik dengan kegiatan filantropi perusahaan, bantuan sosial, pembangunan fasilitas umum, maupun berbagai bentuk donasi kepada masyarakat, kini praktik tersebut mengalami transformasi yang jauh lebih mendasar.

Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap keberlanjutan, berkembangnya standar Environmental, Social and Governance (ESG), meningkatnya perhatian terhadap hak asasi manusia, perubahan iklim, serta ekspektasi masyarakat terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab, perusahaan dituntut untuk memainkan peran yang lebih strategis dalam pembangunan.

Perubahan ini juga terjadi di Indonesia. Berbagai regulasi nasional menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan tidak lagi dipandang sebagai aktivitas sukarela semata, tetapi menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang berkelanjutan. Di sisi lain, agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs), penerapan ESG, hingga meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab semakin memperluas ruang lingkup CSR. Masyarakat kini tidak lagi hanya menilai perusahaan dari besarnya keuntungan yang dihasilkan, tetapi juga dari kontribusinya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menjaga lingkungan, serta menciptakan pembangunan yang inklusif.

Dengan kata lain, pertanyaan yang dihadapi perusahaan saat ini bukan lagi “Apakah perusahaan perlu menjalankan CSR?”, melainkan “Bagaimana CSR dapat dirancang agar mampu menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan?”

Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam Sustainability Learn Hub: Webinar Series yang diselenggarakan oleh Enviro Strategic Indonesia pada 29 Juli 2026. Webinar ini mempertemukan perspektif akademik dan praktis untuk membahas bagaimana Community Development berkembang menjadi fondasi utama praktik CSR modern.

Dari Filantropi Menuju Strategi Bisnis Berkelanjutan

Dalam paparannya, Dr. Triyanti Anugrahini, M.Si., dosen Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa konsep CSR mengalami evolusi yang cukup panjang. Mengacu pada perkembangan teori Archie B. Carroll (2015), praktik CSR dapat dipahami melalui beberapa fase perkembangan.

Pada periode sebelum tahun 1980-an, CSR dipandang sebagai bentuk tanggung jawab sukarela perusahaan terhadap masyarakat. Aktivitas CSR didominasi oleh kegiatan filantropi, bantuan sosial, pembangunan fasilitas publik, dan berbagai bentuk community relations. Perusahaan dianggap telah menjalankan tanggung jawab sosialnya ketika mampu memberikan manfaat kepada masyarakat di luar kewajiban ekonominya.

Memasuki dekade 1980-an, perkembangan konsep Business Ethics mulai mengubah cara pandang tersebut. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga menjalankan bisnis secara etis, adil, jujur, serta memperhatikan hak-hak para pemangku kepentingan.

Perkembangan berikutnya diperkuat oleh konsep Triple Bottom Line yang diperkenalkan John Elkington pada dekade 1990-an. Konsep ini menempatkan keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur melalui profit, tetapi juga melalui kontribusinya terhadap people dan planet.

Menurut Carroll, setelah tahun 1990 praktik CSR berkembang menjadi pendekatan yang lebih komprehensif melalui empat dimensi tanggung jawab perusahaan, yaitu economic responsibility, legal responsibility, ethical responsibility, dan philanthropic responsibility. Model ini selama bertahun-tahun menjadi salah satu kerangka utama dalam memahami tanggung jawab sosial perusahaan.

Namun demikian, menurut Dr. Triyanti, dinamika global menunjukkan bahwa praktik CSR terus berkembang melampaui piramida Carroll. Perusahaan kini menghadapi tantangan yang lebih kompleks, mulai dari perubahan iklim, globalisasi rantai pasok, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak-hak sosial, hingga tuntutan agar perusahaan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.

Ketika Global Bertemu Lokal: Lahirnya Konsep Glocal Responsibilities

Salah satu pembahasan yang menjadi sorotan dalam webinar adalah konsep International Pyramid of CSR yang dikembangkan oleh Massoud (2016). Jika Carroll menempatkan CSR dalam empat lapisan tanggung jawab, Massoud memperluas perspektif tersebut melalui konsep Glocal Responsibilities, yaitu kemampuan perusahaan untuk mengintegrasikan agenda keberlanjutan global dengan kebutuhan nyata masyarakat lokal.

Konsep ini berangkat dari kenyataan bahwa perusahaan saat ini beroperasi dalam dua ruang sekaligus. Di tingkat global, perusahaan dihadapkan pada berbagai standar keberlanjutan seperti SDGs, ESG, pelaporan keberlanjutan, hingga tuntutan investor terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. Namun pada saat yang sama, perusahaan juga berhadapan langsung dengan masyarakat di sekitar wilayah operasinya yang memiliki kebutuhan, budaya, dan karakteristik sosial yang berbeda-beda. Menurut pemaparan Dr. Triyanti, keberhasilan CSR modern terletak pada kemampuan menjembatani kedua ruang tersebut.

Melalui konsep Glocal Responsibilities, perusahaan diharapkan mampu menerjemahkan tujuan pembangunan global ke dalam aksi-aksi lokal yang relevan, partisipatif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, terdapat tiga tema utama yang menjadi fondasi praktik CSR modern.

Pertama adalah Environmental Care, yaitu komitmen perusahaan untuk meminimalkan dampak operasional sekaligus berkontribusi terhadap pemulihan dan pelestarian ekosistem.

Kedua adalah Community Welfare, yaitu upaya meningkatkan kualitas hidup, kemandirian ekonomi, serta membangun hubungan harmonis antara perusahaan dengan masyarakat yang pada akhirnya memperkuat social licence to operate. Ketiga adalah Cultural Respect, yaitu penghormatan terhadap nilai budaya, adat istiadat, dan pengetahuan lokal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembangunan masyarakat.

Ketiga tema tersebut menunjukkan bahwa CSR modern tidak lagi hanya berbicara mengenai tanggung jawab perusahaan, tetapi mengenai bagaimana perusahaan membangun hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat dan lingkungannya.

Community Development dan Social Innovation: Paradigma Baru Praktik CSR

Dalam webinar, Dr. Triyanti Anugrahini menjelaskan bahwa evolusi CSR membawa perusahaan memasuki pendekatan Community Development, yaitu proses pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menciptakan perubahan. Mengacu pada pemikiran Jim Ife (2013), pendekatan ini dibangun atas prinsip partisipasi, pemberdayaan (empowerment), penghormatan terhadap keberagaman, pembangunan berbasis aset komunitas (asset-based development), hak asasi manusia, dan keberlanjutan.

Perubahan paradigma tersebut menggeser peran perusahaan dari pemberi bantuan menjadi fasilitator pembangunan. Perusahaan tidak lagi mendominasi proses pengambilan keputusan, melainkan membantu masyarakat mengidentifikasi persoalan, memetakan potensi, memperkuat kapasitas, dan merancang solusi secara partisipatif. Dengan demikian, keberhasilan CSR tidak lagi diukur dari banyaknya program atau besarnya anggaran yang disalurkan, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk mempertahankan perubahan secara mandiri setelah program perusahaan berakhir.

Lebih lanjut, Dr. Triyanti menjelaskan bahwa pendekatan Community Development berkembang menuju Social Innovation, yaitu proses menciptakan solusi baru terhadap persoalan sosial melalui kolaborasi, pemanfaatan pengetahuan, teknologi, dan partisipasi masyarakat. Mengacu pada Geoff Mulgan (2019), inovasi sosial tidak hanya menghasilkan program yang kreatif, tetapi juga mampu menciptakan perubahan sosial yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.

Di Indonesia, orientasi tersebut semakin diperkuat melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 1 Tahun 2021 tentang PROPER yang menjadikan inovasi sosial sebagai salah satu indikator dalam penilaian program pemberdayaan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa praktik CSR telah bergeser dari pendekatan yang berorientasi pada kegiatan (activity-based) menuju pendekatan yang berfokus pada penciptaan dampak (impact-based), di mana keberhasilan diukur dari meningkatnya kapasitas masyarakat, terbangunnya kolaborasi, serta terciptanya perubahan yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Membangun Masyarakat, Bukan Sekadar Membangun Program

Salah satu pembahasan yang menarik dalam webinar adalah penjelasan Dr. Triyanti mengenai bagaimana perusahaan seharusnya memposisikan diri ketika menjalankan program Community Development.

Menurutnya, keberhasilan suatu program pemberdayaan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kualitas desain program, tetapi juga oleh cara perusahaan berinteraksi dengan masyarakat selama proses pembangunan berlangsung. Dalam konteks ini, perusahaan tidak cukup hanya membawa sumber daya, anggaran, maupun teknologi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu memfasilitasi masyarakat agar menjadi aktor utama dalam proses perubahan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Community Development yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat (beneficiary). Artinya, masyarakat tidak hanya dilibatkan pada tahap pelaksanaan program, tetapi sejak proses mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas, merancang solusi, hingga mengevaluasi hasil yang telah dicapai.

Pendekatan Partisipatif: Masyarakat sebagai Aktor Utama

Berbeda dengan pendekatan direktif, pendekatan partisipatif atau non-direktif menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan utama dalam proses pembangunan. Dalam pendekatan ini, perusahaan tidak datang membawa paket solusi yang telah selesai dirancang. Sebaliknya, perusahaan hadir sebagai mitra belajar yang membantu masyarakat mengenali persoalan, memetakan potensi lokal, serta merumuskan solusi berdasarkan kebutuhan dan aset yang mereka miliki sendiri.

Dr. Triyanti menekankan bahwa seorang praktisi Community Development harus memiliki keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya memahami persoalan yang mereka hadapi. Tugas pendamping bukan mengambil alih keputusan, melainkan menciptakan ruang agar masyarakat mampu mendefinisikan kebutuhannya sendiri, memperkuat kapasitasnya, dan membangun kepercayaan diri untuk mengelola perubahan secara mandiri.

Melalui proses tersebut, masyarakat memperoleh pengalaman belajar yang tidak kalah penting dibandingkan hasil fisik program. Mereka belajar menganalisis situasi, berdiskusi, membangun konsensus, menyelesaikan konflik, hingga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Inilah yang kemudian menjadi modal sosial bagi keberlanjutan program setelah intervensi perusahaan berakhir.

Praktisi CSR sebagai Fasilitator Perubahan

Perubahan pendekatan tersebut juga mengubah peran praktisi CSR. Jika pada pendekatan konvensional praktisi CSR lebih banyak berfungsi sebagai pelaksana program, maka dalam Community Development mereka bertransformasi menjadi fasilitator perubahan (change facilitator).

Seorang fasilitator bertugas membangun dialog, memperkuat partisipasi masyarakat, menghubungkan komunitas dengan berbagai sumber daya, serta menciptakan proses belajar yang memungkinkan masyarakat berkembang secara mandiri. Menurut Dr. Triyanti, peran ini jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar mengelola anggaran atau menjalankan kegiatan sosial. Praktisi Community Development harus mampu membaca dinamika sosial, memediasi berbagai kepentingan, menghubungkan masyarakat dengan pemerintah maupun lembaga lain, sekaligus memastikan bahwa setiap proses pembangunan tetap menghormati nilai-nilai lokal, hak asasi manusia, dan prinsip pemberdayaan.

Dengan demikian, keberhasilan Community Development tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun perusahaan, tetapi juga oleh bagaimana proses pembangunan itu berlangsung. Program yang dirancang secara partisipatif memang membutuhkan waktu lebih panjang, namun pendekatan inilah yang diyakini mampu menghasilkan rasa memiliki (ownership), memperkuat kelembagaan lokal, dan menciptakan perubahan yang lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan yang sepenuhnya bersifat instruktif.

Ketika Teori Bertemu Praktik: Community Development di Lapangan

Landasan konseptual mengenai evolusi CSR kemudian diperkuat melalui sesi kedua webinar yang disampaikan oleh Ken Retno Asti, praktisi Community Development dari PT Pertamina EP. Jika sesi pertama menjelaskan mengapa CSR perlu berubah, maka sesi kedua memperlihatkan bagaimana perubahan tersebut benar-benar diterapkan di lapangan.

Menurut Ken Retno, tantangan terbesar dalam praktik CSR saat ini bukanlah menyusun program yang menarik atau mengalokasikan anggaran yang besar. Tantangan sesungguhnya adalah memahami persoalan sosial secara mendalam sebelum menentukan bentuk intervensi yang tepat. Karena itu, Community Development selalu dimulai dengan proses social mapping. Melalui pemetaan sosial, perusahaan berupaya memahami karakteristik masyarakat, kondisi ekonomi lokal, struktur kelembagaan, aktor-aktor kunci, hubungan antar kelompok, potensi sumber daya, hingga berbagai risiko sosial yang dapat memengaruhi keberhasilan program.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa program CSR tidak boleh dimulai dari solusi yang telah disiapkan perusahaan, melainkan dari kebutuhan dan potensi yang benar-benar dimiliki masyarakat. Menurutnya, ketika perusahaan mampu memahami akar persoalan sosial, maka solusi yang dihasilkan akan jauh lebih relevan, memperoleh dukungan masyarakat, serta memiliki peluang keberlanjutan yang lebih besar.

AKAR BASAH: Ketika Sampah Menjadi Modal Pemberdayaan

Pendekatan tersebut kemudian dijelaskan melalui studi kasus AKAR BASAH, salah satu program Community Development PT Pertamina EP di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Program ini berangkat dari persoalan yang terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat luas terhadap lingkungan maupun ekonomi masyarakat.

Kabupaten Nunukan merupakan salah satu sentra budidaya rumput laut terbesar di Indonesia. Produksi rumput laut yang tinggi mendorong penggunaan pelampung berbahan plastik HDPE dalam jumlah sangat besar. Setelah tidak lagi digunakan, sebagian besar pelampung tersebut berubah menjadi limbah plastik yang mencemari kawasan pesisir. Di sisi lain, aktivitas operasional perusahaan juga menghasilkan limbah plastik yang memerlukan pengelolaan lebih baik. Permasalahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pencemaran lingkungan. Limbah plastik yang terus menumpuk mulai mengganggu aktivitas masyarakat pesisir, menurunkan kualitas lingkungan, sekaligus menghilangkan potensi ekonomi yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.

Melalui proses pemetaan sosial, tim Community Development menemukan bahwa persoalan tersebut sesungguhnya menyimpan peluang. Alih-alih memandang limbah sebagai masalah, perusahaan mulai melihatnya sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali melalui pendekatan ekonomi sirkular (circular economy).

Dari sinilah lahir program AKAR BASAH. Program ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah plastik, tetapi membangun sebuah ekosistem pemberdayaan masyarakat yang melibatkan kelompok nelayan, kelompok perempuan, lembaga pemasyarakatan, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga lembaga pendidikan. Berbagai inovasi kemudian dikembangkan, mulai dari pemanfaatan limbah HDPE menjadi pelampung baru untuk budidaya rumput laut, pengembangan produk kreatif berbasis limbah plastik, pembentukan bank sampah, hingga pembangunan pusat pembelajaran (learning center) yang menjadi ruang edukasi bagi masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, limbah tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai aset ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Lebih dari itu, program ini menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan dapat sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi, memperkuat kapasitas masyarakat, dan membangun kolaborasi lintas sektor.

Dari Program Lingkungan Menjadi Inovasi Sosial

Yang menarik, keberhasilan AKAR BASAH tidak hanya diukur dari jumlah sampah yang berhasil dikelola. Menurut Ken Retno, keberhasilan utama program justru terletak pada perubahan sistem sosial yang terjadi di masyarakat. Kelompok-kelompok masyarakat yang sebelumnya bekerja secara sendiri-sendiri mulai membangun kolaborasi. Lembaga lokal memperoleh kapasitas baru dalam mengelola program. Masyarakat mulai melihat sampah sebagai sumber pendapatan. Sementara perusahaan memperoleh hubungan yang jauh lebih kuat dengan masyarakat melalui proses pembangunan bersama.

Inilah yang membedakan Community Development dengan pendekatan CSR  konvensional.Jika CSR lama berorientasi pada delivery of assistance, maka Community Development berorientasi pada building local capacity. Keberhasilan program bukan lagi diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, tetapi dari kemampuan masyarakat mempertahankan perubahan setelah perusahaan mengurangi intensitas pendampingannya.

RESAPI: Membangun Ketahanan Pesisir Melalui Kolaborasi

Studi kasus berikutnya adalah RESAPI, sebuah program pemberdayaan masyarakat pesisir yang berangkat dari persoalan degradasi ekosistem pantai. Berbagai aktivitas manusia, termasuk eksploitasi sumber daya pesisir, menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan, meningkatnya abrasi, serta berkurangnya tutupan terumbu karang. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga berdampak langsung terhadap mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.

Melalui pendekatan Community Development, persoalan tersebut tidak diselesaikan hanya dengan kegiatan rehabilitasi lingkungan.

Sebaliknya, perusahaan membangun kolaborasi bersama masyarakat untuk mengembangkan model konservasi yang sekaligus mampu menciptakan manfaat ekonomi. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Hexa Reef, yaitu teknologi rehabilitasi terumbu karang yang dipadukan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat tidak hanya dilibatkan sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pelaku utama dalam proses konservasi, pemeliharaan kawasan pesisir, hingga pengembangan potensi ekonomi berbasis blue economy. Program ini kemudian membuka peluang baru bagi masyarakat melalui pengembangan wisata edukasi, penguatan kelompok masyarakat pesisir, serta peningkatan kapasitas dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, konservasi lingkungan tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang terpisah dari pembangunan ekonomi masyarakat, melainkan menjadi bagian dari strategi peningkatan kesejahteraan.

Lima Insight Utama dari Diskusi

Dari keseluruhan diskusi, terdapat lima pembelajaran penting mengenai arah perkembangan CSR di Indonesia.

  1. CSR Telah Bertransformasi Menjadi Strategi Pembangunan

CSR modern tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan filantropi perusahaan, melainkan sebagai bagian dari strategi pembangunan yang mengintegrasikan tujuan bisnis dengan penciptaan nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan.

  1. Community Development Menjadi Pendekatan Utama

Program CSR yang berkelanjutan harus menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan. Perusahaan berperan sebagai fasilitator yang membantu masyarakat mengenali kebutuhan, memperkuat kapasitas, dan mengembangkan solusi berdasarkan potensi lokal.

  1. Social Mapping Menjadi Fondasi Program

Keberhasilan Community Development sangat ditentukan oleh kualitas pemetaan sosial. Pemahaman terhadap kondisi masyarakat, aset lokal, kelembagaan, serta dinamika sosial menjadi dasar dalam merancang intervensi yang tepat.

  1. Inovasi Sosial Muncul dari Kolaborasi

Inovasi sosial bukan sekadar menciptakan ide baru, tetapi menghasilkan solusi yang lebih efektif melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat.

  1. Dampak Menjadi Ukuran Baru Keberhasilan CSR

Indikator keberhasilan CSR tidak lagi berhenti pada jumlah kegiatan atau besarnya anggaran, tetapi pada perubahan kapasitas masyarakat, keberlanjutan kelembagaan, pemulihan lingkungan, serta terciptanya nilai bersama (shared value) bagi seluruh pemangku kepentingan.

Apa Artinya bagi Praktik CSR di Indonesia?

Diskusi dalam Sustainability Learn Hub menunjukkan bahwa praktik CSR di Indonesia sedang memasuki fase baru. Jika pada masa lalu keberhasilan CSR lebih banyak diukur melalui besarnya kontribusi perusahaan kepada masyarakat, kini orientasinya bergeser menuju kemampuan perusahaan menciptakan perubahan yang bertahan dalam jangka panjang.

Perubahan tersebut juga menggeser peran praktisi CSR. Praktisi tidak lagi hanya menjadi pengelola program sosial, tetapi berkembang menjadi community worker yang mampu memfasilitasi dialog, membangun kolaborasi, melakukan analisis sosial, menghubungkan berbagai sumber daya, serta mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pada saat yang sama, perusahaan juga dituntut untuk melihat masyarakat bukan sebagai objek penerima manfaat, melainkan sebagai mitra pembangunan yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan aset yang dapat dikembangkan bersama.

Pendekatan inilah yang diyakini mampu menghasilkan social licence to operate, memperkuat keberlanjutan bisnis, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dari Program Menuju Dampak

Sustainability Learn Hub kali ini menunjukkan bahwa masa depan CSR tidak lagi berhenti pada penyelenggaraan program-program sosial. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana setiap intervensi mampu menghasilkan perubahan yang bertahan, memperkuat kapasitas masyarakat, membangun kelembagaan lokal, serta menciptakan dampak yang dapat terus berkembang bahkan setelah keterlibatan perusahaan berkurang.

Dalam konteks tersebut, Community Development bukan lagi sekadar salah satu pendekatan CSR, melainkan fondasi utama yang menghubungkan tanggung jawab sosial perusahaan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Ke depan, perusahaan yang mampu mengintegrasikan social mapping, community development, social innovation, dan impact measurement ke dalam strategi bisnisnya akan berada pada posisi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan keberlanjutan sekaligus membangun hubungan yang lebih bermakna dengan masyarakat. Sebagaimana menjadi benang merah sepanjang webinar, masa depan CSR tidak ditentukan oleh seberapa besar perusahaan memberi, tetapi oleh seberapa besar perusahaan mampu menciptakan masyarakat yang lebih berdaya, mandiri, dan tangguh.

About Sustainability Learn Hub : Webinar Series

Sustainability Learn Hub : Webinar Series merupakan ruang belajar dan diskusi yang diinisiasi Enviro Strategic Indonesia untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membahas isu-isu yang berkaitan dengan keberlanjutan, ESG, perubahan iklim, community development dan pembangunan berkelanjutan. Informasi mengenai webinar dan kegiatan berikutnya dapat diakses melalui kanal resmi Enviro Strategic Indonesia.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Biodiversity Assessment

Specialist services to provide expert input in the development of management plans or systems, collect and discover the status and trends of managed biodiversity resources, and provide environmental input and reporting

The list of things that we're going to collaborate with you is:

Biodiversity Index

DILIGENSIA Scientific Publications

Service to publish multidisciplinary research related to CSR. This service is a forum for exchanging ideas, sharing scientific works and providing the latest research topics. This service aims to promote the exchange of information and knowledge in research work, new discoveries and developments in CSR

The list of things that we're going to collaborate with you is:

CSR Book Writing

ISBN Submission

CSR Scientific Journal Writing (SINTA Accreditation)

Dissemination on Academic Forums

Innovation & Development

Services that apply evidence-based innovation to design and implement effective and adaptive community development programs that have long-lasting impact. Our research & development are informed by our deep understanding of the local context

The list of things that we're going to collaborate with you is:

Innovation Study

Ecotourism

Aquaculture

Bio-Innovation Development

Integrated & Urban Farming

Waste Management

Black Soldier Fly Bio-Convertion & Cultivation

Multimedia

Creative services to create the best visuals for corporate communications. We strive to push every project to the next level, and have fun to doing it.

The list of things that we're going to collaborate with you is:

Documentaries

Professional Voice-Over

Motion Graphic

Creative Design for Corporate Presentation

Professional Video Shooting

CSR Awarding Assistance

Services that assist companies in preparing the documents required for CSR awards. PROPER is an award initiated by the Ministry of Environment and Forestry for encouraging corporate social and environmental responsibilities compliance. PROPER compliance is the focus of ESI's services as a form of optimizing the companies eligibility for the award

CSR Implementation

This service is developed through an evidence-based method to help the successful implementation of CSR programs. The service is developed with an academic network focused on problem solving and sharing of resources to increase the possibility of sustainable implementation. The list of things that we're going to

collaborate with you is:

Community Development Officer

Charity Event

Social Research & Development

A prerequisite for the presence of community empowerment in CSR is the program contextualization with local values and community potential. Research in Sustainability Management programs are the main activities in these services.

The list of research that we're going to collaborate with you​ is:

Social Mapping

Stakeholders Mapping

CSR Grand Design

Strategic Planning & Sustainability Blueprint

Stakeholders Engagement Analysis

Marketing Funnel for MSME

Social Return On Investment (SROI)

Consumer Loyalty Measurement

Community Satisfaction Index

Social Innovation Verification

Verification of SDGs Achievement Contribution

Assurance & Social License Index (SLI)