Gender and Climate Justice: Kerentanan Perempuan dalam Pusaran Krisis Iklim
22 April 2026 – Sustainability Learn Hub : Webinar Series
Krisis iklim sering dipahami sebagai persoalan lingkungan: meningkatnya suhu global, banjir yang semakin sering terjadi, kekeringan yang berkepanjangan, hingga cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. Namun di balik berbagai dampak tersebut, terdapat dimensi lain yang sering luput dari perhatian, yaitu bagaimana krisis iklim memperbesar ketimpangan sosial yang telah lama ada di masyarakat.
Salah satu kelompok yang paling merasakan dampak tersebut adalah perempuan. Di banyak komunitas, perempuan berada di garis depan dalam memastikan tersedianya pangan, air, energi, kesehatan keluarga, hingga pengasuhan. Ketika sumber daya semakin terbatas akibat perubahan iklim, beban yang mereka tanggung pun meningkat.
Ironisnya, meskipun perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak sekaligus paling aktif membangun ketahanan di tingkat keluarga dan komunitas, suara mereka masih relatif minim dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi apakah perempuan terdampak oleh krisis iklim, melainkan bagaimana memastikan mereka menjadi bagian dari solusi dan kepemimpinan dalam agenda keadilan iklim.


Pertanyaan tersebut menjadi fokus utama dalam Sustainability Learn Hub : Webinar Series yang diselenggarakan oleh Enviro Strategic Indonesia pada 22 April 2026 dengan tema Gender and Climate Justice: Kerentanan Perempuan dalam Pusaran Krisis Iklim.
Webinar menghadirkan dua narasumber yang aktif bekerja pada isu keadilan iklim, gender, dan pembangunan inklusif, yaitu Arti Indallah Cakra Negara (Program Development Manager Climate Justice Yayasan Humanis) dan Zubaidah Djohar (Climate Equity, Gender & Social Inclusion Expert). Diskusi dimoderatori oleh Yanti Nur Hasanah dari Enviro Strategic Indonesia.
Ketika Krisis Iklim Menjadi Krisis Ketidakadilan
Dalam paparannya, Arti Indallah menjelaskan bahwa krisis iklim tidak dapat dipandang sebagai persoalan lingkungan semata. Dampak perubahan iklim tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat.
Kelompok yang memiliki sumber daya ekonomi, akses informasi, dan kapasitas adaptasi yang lebih besar cenderung lebih mampu menghadapi krisis. Sebaliknya, kelompok rentan justru sering kali menanggung dampak yang lebih berat meskipun kontribusinya terhadap emisi relatif kecil.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa krisis iklim memiliki dimensi keadilan yang kuat. Persoalan iklim tidak hanya berkaitan dengan emisi karbon, tetapi juga relasi kuasa, ketimpangan sosial, dan akses terhadap sumber daya.
Ia juga menyoroti bagaimana perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak karena memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan kebutuhan dasar rumah tangga tetap terpenuhi. Ketika terjadi kekeringan, kenaikan harga pangan, banjir, atau bencana lainnya, perempuan harus bekerja lebih keras untuk menjaga keberlangsungan keluarga.
“Ketika kita berbicara tentang krisis iklim, kita juga sedang berbicara tentang ketidakadilan yang telah lama ada di masyarakat,” jelasnya.
Care Economy: Pekerjaan yang Menopang Kehidupan tetapi Tidak Terlihat
Salah satu gagasan yang banyak mendapat perhatian dalam diskusi adalah konsep care economy atau ekonomi perawatan.
Zubaidah Djohar menjelaskan bahwa sebagian besar pekerjaan perawatan dalam masyarakat masih dilakukan oleh perempuan. Mulai dari mengurus anak, merawat anggota keluarga yang sakit, memastikan kebutuhan pangan tersedia, hingga menjaga keberlangsungan rumah tangga saat terjadi krisis.
Ketika layanan publik tidak memadai atau terjadi gangguan akibat bencana iklim, beban tersebut tidak hilang. Sebaliknya, beban itu berpindah ke rumah tangga dan sebagian besar ditanggung oleh perempuan.
Padahal, kerja perawatan tersebut merupakan fondasi penting yang memungkinkan masyarakat tetap bertahan dalam situasi krisis.
“Banyak negara berjalan normal karena ada jutaan jam kerja perawatan yang tidak pernah masuk dalam perhitungan ekonomi,” ungkapnya.
Diskusi ini menunjukkan bahwa keadilan iklim tidak dapat dipisahkan dari upaya mengakui, mengurangi, dan mendistribusikan secara lebih adil beban kerja perawatan yang selama ini tidak terlihat.
Dari Kerentanan Menjadi Agen Resiliensi
Menariknya, kedua narasumber sepakat bahwa perempuan tidak boleh hanya diposisikan sebagai kelompok rentan atau korban krisis iklim.
Berbagai pengalaman lapangan menunjukkan bahwa perempuan justru sering menjadi aktor utama dalam membangun ketahanan komunitas.
Mereka mengelola pangan keluarga, membangun kelompok simpan pinjam, menjalankan usaha kecil, mengembangkan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan, hingga menjadi penggerak solidaritas sosial ketika terjadi bencana.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengalaman pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas di Sumba. Melalui pendekatan Gender Action Learning System (GALS), perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat program energi, tetapi juga terlibat dalam pengambilan keputusan, pengelolaan usaha produktif, hingga penguatan kapasitas teknis.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi akses, ruang, dan kesempatan yang setara, mereka mampu menjadi agen perubahan yang penting dalam agenda transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.
Lima Insight Utama dari Diskusi
- Krisis Iklim Adalah Persoalan Keadilan Sosial
Dampak perubahan iklim tidak dirasakan secara merata. Kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak.
- Perempuan Menanggung Beban yang Tidak Proporsional
Peran perempuan dalam penyediaan pangan, air, energi, dan pengasuhan membuat mereka menghadapi dampak berlapis ketika terjadi krisis lingkungan maupun ekonomi.
- Care Economy Harus Menjadi Bagian dari Agenda Iklim
Kerja perawatan merupakan fondasi ketahanan masyarakat. Namun kontribusi tersebut masih sering tidak terlihat dalam kebijakan, perencanaan pembangunan, maupun sistem ekonomi.
- Partisipasi Tidak Cukup, Perempuan Harus Memiliki Pengaruh
Kehadiran perempuan dalam forum-forum pembangunan penting, tetapi yang lebih penting adalah memastikan suara mereka benar-benar memengaruhi keputusan.
- Keadilan Iklim Membutuhkan Transformasi Sistem
Meningkatkan partisipasi perempuan saja tidak cukup. Diperlukan perubahan pada sistem, kebijakan, pendanaan, dan tata kelola agar manfaat pembangunan dan transisi energi dapat dirasakan secara lebih adil.
Mengapa Perspektif Gender Penting dalam Agenda Iklim?
Diskusi ini menunjukkan bahwa agenda iklim dan agenda kesetaraan gender tidak dapat dipisahkan.
Indonesia saat ini tengah mendorong berbagai agenda pembangunan berkelanjutan dan transisi energi. Namun keberhasilan agenda tersebut tidak hanya diukur dari penurunan emisi atau pembangunan infrastruktur baru.
Yang sama pentingnya adalah memastikan bahwa kelompok yang paling terdampak memiliki akses terhadap manfaat pembangunan dan memiliki ruang untuk menentukan arah perubahan.
Dalam konteks tersebut, perempuan tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai penerima manfaat program. Mereka perlu ditempatkan sebagai aktor utama dalam proses pembangunan, pengambilan keputusan, dan transformasi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Dari Ketahanan Menuju Kepemimpinan
Sustainability Learn Hub : Webinar Series kali ini menunjukkan bahwa perempuan telah lama berada di garis depan dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi, krisis sosial, hingga krisis iklim.
Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meningkatkan partisipasi perempuan, tetapi memastikan bahwa sistem pembangunan mampu mengakui, mendukung, dan memperkuat peran tersebut.
Karena pada akhirnya, keadilan iklim tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengurangi emisi karbon.
Keadilan iklim juga berbicara tentang bagaimana memastikan bahwa mereka yang paling terdampak memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan masa depan.
Sebagaimana menjadi benang merah sepanjang diskusi:
“Tidak ada transisi yang adil tanpa suara perempuan.”
About Sustainability Learn Hub : Webinar Series
Sustainability Learn Hub : Webinar Series merupakan ruang belajar dan diskusi yang diinisiasi Enviro Strategic Indonesia untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membahas isu-isu yang berkaitan dengan keberlanjutan, ESG, perubahan iklim, community development dan pembangunan berkelanjutan. Informasi mengenai webinar dan kegiatan berikutnya dapat diakses melalui kanal resmi Enviro Strategic Indonesia.































Leave a Reply