Nelangsa dan Dilema Masyarakat Pesisir Utara Madura

Foto: Kapal-Kapal Nelayan Desa Klampis Barat
Menilik jauh menuju pesisir Utara Madura, terdapat sebuah desa padat penduduk yang bernama Klampis Barat. Tipikal daerah pesisir dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan dengan tangkapan ikan berupa tongkol atau layur. Namun seiring waktu ke waktu, kondisi nelayan di Desa Klampis Barat semakin jauh dari kata sejahtera. Hal itu tidak terlepas dari kondisi hasil tangkapan ikan mereka yang jauh dari kata melimpah bahkan relatif terus menurun. Hingga saat ini, masyarakat selalu menceritakan kejayaan hasil tangkapan ikan mereka saat dahulu sampai terkesan bahwa mereka merindukan masa-masa itu.
Kondisi itu memberikan tekanan berat menjadi seorang nelayan di Desa Klampis Barat. Selain itu, keterampilan utama mereka hanya untuk menjadi seorang nelayan karena telah terlatih sejak kecil dan akrab dengan ombak laut. Seakan-akan menegaskan bahwa nelayan adalah salah satu mata pencaharian paling memungkinkan untuk dilakoni dengan menggunakan kapal yang telah berusia berpuluh-puluh tahun dengan beberapa kapal hasil warisan dari orang tua mereka. Adanya situasi tersebut meyakini bahwa laut adalah sumber kehidupan mereka untuk bertahan hidup.
Di samping situasi nelayan yang hanya menceritakan masa-masa kejayaan mereka, menjadi seorang pegawai pelayaran adalah salah satu opsi untuk memperpanjang masa hidup mereka. Mayoritas laki-laki di Desa Klampis Barat baik yang tua atau muda telah banyak yang mempertaruhkan hidupnya untuk mengambil bagian menjadi pegawai pelayaran. Dengan gaji tinggi tidak seperti nelayan biasa, mereka berani untuk meninggalkan anak, istri dan keluarga. Tidak heran, jika beberapa rumah di kawasan Desa Klampis Barat ini tergolong sebagai rumah permanen yang relatif bagus karena penghasilan pegawai pelayaran yang tinggi.
Sejak dahulu masyarakat laki-laki Desa Klampis Barat ini memilih bekerja untuk menjadi nelayan atau pegawai pelayaran. Mereka memilih pekerjaan tersebut karena hanya akrab dan terbiasa dengan ombak laut yang pasang dan surut. Bahkan beberapa orang yang telah pensiun sebagai pegawai pelayaran ketika balik ke Klampis Barat ini langsung meneruskan hidupnya menjadi seorang nelayan. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak memiliki pilihan lain dari hidup menjadi pelaut atau melaut.
Banyaknya masyarakat yang merantau dan meninggalkan Madura ini berdampak pada semakin tipisnya tingkat partisipasi pemuda. Pemuda di Desa Klampis Barat memilih untuk merantau daripada hidup dengan berpenghasilan rendah di desa sendiri. Mereka mencoba untuk menjadi pegawai pelayaran dengan mengikuti berbagai kursus dan agen pelayaran karena tidak banyak pilihan pekerjaan di desa. Meskipun cita-cita mereka sebagai pegawai pelayaran tidak terwujud, mereka memilih tetap merantau mencari penghasilan.
Kondisi ini menjadi dilema dan nelangsa karena kondisi laut yang semakin menurun, tetapi masyarakat hanya memiliki keterampilan utama di laut. Kemudian, masyarakat memilih merantau karena menjadi nelayan atau bekerja lain di desa ini kurang menjanjikan, tetapi dari hari-hari tingkat partisipasi pemuda menjadi semakin menurun. Selain itu, uang dari hasil menjadi pegawai pelayaran terus mengalir di masyarakat Desa Klampis Barat sehingga kondisi desa semakin banyak rumah dan menjadi padat penduduk. Alhasil, desa ini menjadi kehilangan pesisirnya karena terus ditutup oleh bangunan-bangunan.

Foto: Kondisi Kepadatan Penduduk di Pesisir Klampis Barat
Kehilangan pesisir ini menjadi ironi karena kondisi laut yang tidak menentukan ini bisa membahayakan kehidupan mereka. Sering kali air laut meninggi dan membanjiri kawasan penduduk. Namun masyarakat tidak bergeming, justru berdalih bahwa itu sesuatu yang biasa terjadi. Tanpa mereka sadari bahwa yang mereka alami adalah sesuatu yang berbahaya bagi kehidupannya. Selain kehilangan pesisir, kondisi laut mereka ini diperparah dengan kebiasaan mereka untuk membuang sampah ke laut seperti tanpa dosa. Hal itu memberikan potensi berlebih untuk terjadinya berbagai ancaman bencana yang mungkin saja datang secara tiba-tiba.

Foto: Kondisi Laut Klampis Barat
Beberapa masyarakat Desa Klampis Barat menyebutkan bahwa mereka sudah terbiasa dengan membuang sampah ke laut karena menganggap bahwa laut itu tempat untuk sampah dibuang. Oleh sebab itu, laut mereka dipenuhi sampah karena ulah mereka bahkan ditambah kiriman sampah dari desa tetangga. Adanya situasi ini memberikan nelangsa dan dilema yang semakin menjadi-jadi karena sampah itu bisa menjadi petaka untuk kehidupan mereka. Kondisi ini tidak semestinya untuk dibiarkan terus-menerus karena hal buruk tidak perlu untuk dipertahankan meskipun pola pikir telah membentuk karakter mereka begitu kuat.
Dilema dan nelangsa di Desa Klampis Barat ini benar adanya terjadi hingga saat ini. Kompleksitas kehidupan masyarakat ini telah membentuk suatu kondisi yang rumit terutama yang berkaitan dengan mata pencaharian atau materi. Mereka melakukan segala upaya untuk mendapatkannya meskipun dengan keterampilan terbatas serta adanya situasi yang mendorong untuk mereka merantau meninggalkan desanya. Selain itu, uang yang terus mengalir dari hasil merantau justru membentuk kondisi kependudukan yang tidak ideal dan padat. Hal itu bahkan diperparah dengan kebiasaan masyarakat untuk membuang sampah ke laut telah memberikan kondisi yang semakin tidak ideal untuk hidup sehari-hari. Kondisi ini adalah dilema dan nelangsa yang masih terjadi tetapi tidak menutup adanya intervensi dalam memperbaiki hajat hidup mereka. Mungkin saja esok atau lusa ada hal baik yang menyertai dan memberikan tingkat kehidupan yang lebih baik di desa sendiri.































Leave a Reply