Membangun Komunitas yang Tangguh Melalui Tradisi Religius

(Foto : Kegiatan Keagamaan di Desa Bandang Dajah)
“Di sini, setiap harinya selalu ada kegiatan keagamaan Mas. Mau itu sholawatan, tahlilan, yasinan, pengajian. Kita ya silaturahmi disana, ketemu disana, kumpul disana”
Itulah sepotong percakapan yang disampaikan oleh Kepala Desa saat melakukan wawancara dalam rangka riset pemetaan sosial di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Pemetaan sosial ini bertujuan untuk menggali lebih dalam dinamika sosial serta potensi kekuatan komunitas yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Temuan awal menunjukkan hal yang menarik: kekuatan masyarakat tampak bukan hanya dari aspek ekonomi atau infrastruktur, tetapi terutama dari kohesi sosial yang terjalin melalui tradisi keagamaan, gotong royong, dan ikatan nilai-nilai lokal yang masih dijaga dengan baik hingga kini.
Selayang Pandang Bandang Dajah
Desa Bandang Dajah merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Dalam selayang pandang riset pemetaan sosial, desa ini berada di daerah dataran rendah dengan banyaknya lahan-lahan yang tersedia. namun, lahan-lahan di desa ini, mayoritas merupakan lahan tidur yang tidak dimanfaatkan. Padahal, lahan-lahan tersebut menjadi potensi besar untuk menggerakan roda ekonomi desa.

(Foto : Lahan Tidur di Desa Bandang Dajah)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, Desa Bandang Dajah termasuk dalam kategori wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada pekerjaan sebagai buruh harian lepas, dengan pendapatan yang tidak menentu. Selain itu, desa ini juga mengalami gelombang perantauan yang tinggi, terutama di kalangan generasi muda, yang banyak meninggalkan desa untuk mencari peluang ekonomi di luar daerah.
Tapi dibalik selayang pandang tersebut, terdapat suatu kekuatan besar yang dapat menjadi potensi desa yang menjadi temuan yakni Tradisi Religius Masyarakat Desa Bandang Dajah. Adanya tradisi tersebut membuat Desa Bandang Dajah memiliki kekuatan yang besar dan modal sosial yang tinggi.
Tradisi Religius Sebagai Praktik Sosial
Berada di wilayah Pulau Madura, desa ini memiliki garis sejarah panjang soal kebudayaan dan tradisi keagamaan. Hampir setiap malam, dari masjid setempat hingga langgar kecil milik warga, terdengar lantunan ayat suci, sholawat, dan doa-doa yang dipanjatkan secara kolektif oleh warga.
Praktik keagamaan di Desa Bandang Dajah telah membentuk sebuah pola hidup kolektif masyarakat. Pengajian rutin, sholawat, tradisi haul, maulid nabi dan kegiatan lainnya memperlihatkan suatu nilai religius yang hidup dalam keseharian masyarakat. Pada akhirnya, masjid, langgar dan mushola yang ada bukan hanya menjadi sekedar tempat ibadah, melainkan sebuah ruang publik, ruang sosial yang menjadi titik temu yang dapat menguatkan kohesi sosial Masyarakat Bandang Dajah.
Modal Sosial dan Ketahanan Komunitas
Di Desa Bandang Dajah, Tokoh agama memiliki peran strategis sebagai penggerak. Kegiatan keagamaan, menciptakan jejaring sosial yang kuat antar masyarakat dan menjadi fondasi solidaritas dan kohesi, terutama saat menghadapi krisis tertentu. Tradisi religius mendorong lahirnya aksi kolektif dalam bentuk gotong royong, penggalangan bantuan, hingga pendidikan informal seperti madrasah, pendidikan pengajian, dan lain lain. Ini menjadi modal sosial penting yang menopang ketahanan komunitas masyarakat Desa Bandang Dajah. Dengan adanya modal sosial beberapa pembangunan seperti infrastruktur jalan menjadi lebih mudah untuk dikembangkan. Dari hasil pemetaan sosial yang telah dilakukan, hampir seluruh jalan-jalan desa terbangun dari hasil gotong royong masyarakat.
Modal sosial yang tinggi dapat menjadi senjata dan peluang untuk mengembangkan desa, tidak hanya dari segi infrastruktur modal sosial dapat menjadi wadah untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Desa Bandang Dajah seperti adanya pembentukan kelompok batik
Tantangan dan Peluang
Kemajuan zaman akibat modernisasi dan pergeseran generasi yang terkhusus pada kasus rantai perantauan di Desa Bandang Dajah menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Namun, peluang besar muncul lewat pendekatan kreatif, seperti integrasi kegiatan keagamaan dan ekonomi, pelibatan anak muda, serta kolaborasi dengan sektor lain. Tradisi religius bahkan dapat dikembangkan menjadi program sosial-ekonomi yang berbasis pada pendidikan.
Mengingat potensi terbesar Desa Bandang Dajah adalah pemanfaatan lahan, maka program seperti pengenalan pertanian sejak dini melalui pendekatan berbasis pendidikan agama merupakan salah satu peluang yang bisa dipraktekan guna mencegah atau memutus tren kenaikan angka pemuda yang merantau akibat adanya ketidaksadaran akan peluang mata pencaharian di Desa Bandang Dajah.
Penutup: Tradisi Religius sebagai Jalan Pemberdayaan
Tradisi religius di Desa Bandang Dajah pada akhirnya bukan hanya sekadar wujud ritual spiritual, tetapi telah menjelma menjadi instrumen sosial yang memperkuat kohesi, solidaritas, dan daya tahan komunitas. Melalui aktivitas keagamaan yang terstruktur dan berkelanjutan, masyarakat membangun jejaring sosial yang tangguh di tengah keterbatasan ekonomi dan tantangan sosial yang ada di Desa Bandang Dajah.
Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas, ketika terintegrasi dengan kehidupan sosial, dapat menjadi landasan kuat bagi proses pemberdayaan masyarakat. Harapannya, kekuatan dan potensi masyarakat dengan tradisi religius di berbagai wilayah dapat menjadi poros utama pendekatan pembangunan berbasis kearifan lokal yang mengakar dan berkelanjutan.
Penulis : Thoriq Ramadhan, Fery Nur Wahid
Editor : Thoriq Ramadhan, Fery Nur Wahid
Register






























Leave a Reply